Agung Kalimasyahda


TINDAKAN SYEH PUJI HARUS DIKAJI ULANG
Januari 14, 2009, 6:41 am
Filed under: ARTIKEL 1

daisy-05-june2

TINDAKAN SYEKH PUJI HARUS DIKAJI ULANG

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi secara tegas mengatakan tindakan Syekh Puji yang menikahi anak di bawah umur harus dikaji ulang.

Saya tidak setuju tindakannya itu,” ujarnya usai menghadiri Halal Bihalal dan pelepasan haji Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) NU di gedung Jami’yyatul Hujjaj Kudus (JHK) atau Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Jateng, Rabu.

Menurut dia, tindakan tersebut perlu dikritisi kembali, melalui kajian psikologi maupun hukum.

Apalagi secara psikologi tindakannya menikahi anak di bawah umur patut dipertanyakan apakah karena ilmu atau hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis.

“Secara hukum, persoalan ini perlu diteliti kembali dan ini menjadi tanggung jawab kepolisian,” katanya.(*)

MENAG: SYEKH PUJI BISA TERKENA SANKSI

JAKARTA, 27-10-2008 — Menteri Agama (Menag) Muhammad Maftuh Basyuni menilai, perilaku Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji yang menikahi anak berusia 12 tahun bisa dikenai sanksi sesuai pelanggaran yang dia lakukan.

Pernyataan itu disampaikan Maftuh seusai acara Halalbihalal dan Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Minggu malam (26/10/08).

Mengenai sanksi apa yang akan dikenakan, Maftuh menyerahkan kepada aparat yang berwenang. “Itu kan aparat yang akan bertindak,” ujarnya.

Sebelumnya, seusai membuka Halaqah Pengembangan Pondok Pesantren di Hotel Mercuri, Menteri Maftuh menjelaskan, di Indonesia orang Islam terikat dengan dua ukuran. Di satu sisi sebagai Muslim dia terikat pada syariat, sementara di sisi lain sebagai warga negara dia terikat pada hukum positif, dalam hal ini UU Perkawinan.

Karena itu, ia setuju dengan langkah Komnas Perlindungan Anak yang akan menuntut Syekh Puji karena perkawinan yang dia lakukan terhadap anak usia 12 tahun. “Dalam UU Tahun 1974 mengenai Undang-Undang Perkawinan disebutkan batas minimal usia perkawinan“, katanya.

Hal senada disampaikan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Dr Asrorun Niam. Menurutnya, Syekh Puji akan dikenai sanksi sesuai aturan dalam undang-undang. “Perkawinan dia secara hukum fikih memang, tetapi haram karena bisa menimbulkan dhoror (bahaya),” ujarnya.

Ia mengatakan, secara syariah apa yang dilakukan Syekh Puji memang tidak dilarang, dengan catatan bocah tersebut sudah mengalami menstruasi.

Namun, dari sudut pandang hukum positif yang mengacu pada UU Perkawinan, pernikahan Syekh Puji tidak sah. Selain itu, juga menimbulkan masalah dalam perlindungan anak.

Mengenai pernikahan yang dilakukan Syekh Puji dengan pernikahan siri (bawah tangan), menurut Niam, pernikahan itu meski sah secara agama, dapat meniadakan hak-hak perdata pihak perempuan. (Sumber: Kompas.com)

SYEKH PUJI DILAPORKAN KE POLDA JATENG

SEMARANG, SENIN – Jaringan Peduli Perempuan dan Anak atau JPPA melaporkan tindakan Pudjiono Cahyo Widiyanto atau Syekh Puji, pemilik pondok pesantren Miftahul Jannah Pudjiono, Bedono, Jambu, Kabupaten Semarang, ke Kepolisian Daerah Jawa Tengah. Tindakan Syekh Pudji menikahi anak perempuan di bawah umur dinilai merupakan tindakan eksploitasi pada anak.

Ketua JPPA Agnes Widanti mengungkapkan hal tersebut ketika menyerahkan laporan ke Polda Jateng, Senin (27/10 ). Agnes yang datang bersama beberapa lembaga swadaya masyarakat atau LSM di Jateng ditemui oleh Kepala Kepala Bagian Operasional I Direktorat Reserse dan Kriminal Polda Jateng Ajun Komisaris Besar Nelson P Purba.

“Kami berharap kepolisian menindak tegas perlakuan orang seperti Syekh Puji yang mengatasnamakan agama untuk mengambil keuntungan. Jika tidak ditindak, nantinya akan terus bertumbuhan orang-orang seperti itu,” katanya.

Sebelumnya, Syekh Puji dikabarkan menikahi Lutfiana Ulfa (12), anak dari Suroso (33) dan Siti Huriyah (30) tanggal 22 Oktober lalu. Ulfa juga dijanjikan akan dijadikan manajer sebuah perusahaan milik Syekh Puji. Pernikahan ini menuai protes dari berbagai pihak, meski pihak keluarga menerima dengan iklas.

Agnes menilai, Syekh Puji telah mengabaikan dan bahkan merendahkan derajat serta martabat perempuan. Dampak dari perilaku tersebut menurut Agnes akan menyebabkan trauma seksual serta berdampak buruk pada kesehatan reproduksi pada anak perempuan. Selain itu, secara psikologis, anak belum mampu membuat keputusan yang tepat bagi dirinya, apalagi dibebani tanggung jawab sebagai istri dan sebagai manajer perusahaan.

Menurut Agnes, Syekh Puji sudah melakukan beberapa pelanggaran sekaligus, diantaranya terhadap Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, kitab undang-undang hukum pidana (KUHP), Undang-undang nomor 21 thaun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, serta Undang-undang nomor 13 tahun 2004 tentang ketenagakerjaan.

Kasus semacam ini menurut Agnes sudah banyak terjadi. Hanya saja, tidak semua terungkap ke permukaan. Karena itu, sebelum fenomena ini semakin menyebar, penegak hukum harus bertindak tegas.

Menanggapi hal itu, Neslon mengatakan pihaknya akan segera berkoordinasi untuk menyelidiki kasus ini. “Kami juga menilai, jika perbuatan ini dibiarkan, akhirnya masyarakat akan menerima fenomena tersebut sebagai budaya dan menjadi nilai-nilai dalam masyarakat,” ujarnya.

Kepala Polda Jateng Inspektur Jendral FX Sunarno mengatakan pihaknya akan segera memanggil Syekh Puji untuk dimintai keterangan. Sunarno menyebutkan, ada kemungkinan Syekh Puji terkena pasal 288 KUHP tentang persetubuhan dalam perkawinan dengan wanita yang masih di bawah umur. (Sumber: Kompas.com).

Kak Seto Temui Syekh Puji

Sabtu, 01 November 2008 , AMBARAWA – Presdir PT Si lenter (PT Sinar Lendoh Terang) yang juga pemilik Ponpes Miftahul Jannah Pujiono CW, Dr HM Pujiono Cahyo Widianto MBA berjanji akan segera mengembalikan Lutfiana Ulfa kepada orang tuanya paling lambat minggu depan.

Hal itu ditegaskan Ketua Komnas PA (Komisi Nasional Perlindungan Anak) Dr Seto Mulyadi Sabtu (1/11/0 8) pagi tadi kepada Wawasan. ”Kemungkinan Ulfa akan dipulangkan Senin (3/11) atau paling lambat pekan depan,” kata Kak Seto, kepada Wawasan, Sabtu (1/11) pagi tadi.

Intinya, tambah Kak Seto, Syeh Puji akan mengikuti aturan yang ditegaskan dalam UU Perkawinan dan Perlindungan Anak. ”Apa pun itu istilahnya, menceraikan atau memisahkan, Syeh Puji sudah menegaskan hal itu. Bahkan juga dipertegas oleh penasihat hukumnya, Sedyo Prayogo SH MH dalam pertemuan saya dengan dia semalam,” tambahnya.

Dikatakan Kak Seto, Minggu (2/11/0 8) malam besok pihaknya akan kembali bertemu dengan Syekh Puji untuk membicarakan lagi teknis pemulangan Ulfa ke orang tuanya.

Seperti diketahui, Ketua Komnas PA (Komisi Nasional Perlindungan Anak) Dr Seto Mulyadi yang biasa disapa Kak Seto, Jumat (31/10/0 8) petang kemarin, kembali menemui Presdir PT Silenter (PT Sinar Lendoh Terang) yang juga pemilik Ponpes Miftahul Jannah Pujiono CW, Dr HM Pujiono Cahyo Widianto MBA, di kediamannya, Kompleks Ponpes Miftahul Jannah, Desa Bedono. Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.

Pada pertemuan untuk yang kedua kalinya kemarin, Pujiono CW yang lebih akrab dengan sapaan Syekh Puji, kembali melontarkan komitmennya untuk membatalkan pernikahannya dengan Lutfiana Ulfa, gadis bau kencur yang usianya baru 12 tahun dan mengembalikannya kepada kedua orang tuanya, Suroso dan Siti Huriyah, di Desa Randu-gunting, Kecamatan Bergas.

Seusai bertemu Syekh Puji, Kak Seto merasa lega. Pasalnya beberapa hari belakangan setelah kehadirannya yang pertama Syekh Puji sempat melontarkan statemen yang bertentangan dengan kesanggupannya, namun pada pertemuan kemarin Syekh Puji tetap komit membatalkan pernikahannya dengan Ulfa.

”Ini sesuai dengan target kehadiran kami ke rumah Syekh Puji. Dengan komitmen Syekh Puji, kami yakin kasus pernikahan kontroversi yang dilakukannya akan berhasil diselesaikan secara kekeluargaan dan dalam suasana yang damai. Meski demikian, berkaitan dengan kasus hukum yang sekarang ini tengah dalam proses pemeriksaan, kami serahkan sepenuhnya kepada beberapa pihak yang berwenang,” ujar Kak Seto.

Mengambang

Syekh Puji ketika ditanya wartawan seusai berlangsungnya pertemuan dengan Kak Seto, enggan berkomentar. Meski demikian, R Sedyo Prayogo SH MH selaku juru bicara yang sekaligus penasihat hukum keluarga Syech Puji membenarkan, bahwa di antara hasil pertemuan Syech Puji dengan Kak Seto, adalah niatnya untuk membatalkan pernikahannya dengan Lutfiana Ulfa.

“Meski hasilnya sudah jelas, namun kami lihat pertemuan Kak Seto dengan Syech Puji kemarin petang masih ngambang. Penyelesaian kasus tersebut masih perlu ditata, karena untuk membatalkan pernikahan antara Syech Puji dengan Nyai Ulfa harus menghadirkan kedua orang tuanya, para saksi dan wali nikah untuk diminta kesepakatannya atas proses pembatalan pernikahan yang sudah berlangsung, ” ujar Sedyo Prayogo.

Pihaknya juga minta kepada beberapa pihak yang berwenang, agar setelah pembatalan pernikahannya, ada keseimbangan perlakuan hukum bagi yang bersangkutan, agar dalam masalah ini tak ada yang merasa dirugikan.

Sedyo Prayogo yang akrab dipanggil Gogok itu juga mengungkapkan, berkaitan dengan digelarnya kasus pernikahan kontroversi Syech Puji, para advokat senior dan Kongres Advokat se-Indonesia beserta cabang-cabangnya telah siap untuk mendampingi Syech Puji. “Dr Teguh Samudra SH MH, Ramdlon Naning SH MH, serta beberapa pengacara dari Kongres Advokad Indonesia (KAI) siap mendampingi Syech Puji,” tambahnya.

Ditunda

Sementara itu, pemeriksaan Lutfiana Ulfa yang dijadwalkan berlangsung di Polwiltabes Semarang, Jumat (31/10) kemarin, ditunda sampai batas waktu yang tak jelas. Ketidakjelasan pemeriksaan Lutfiana Ulfa tersebut, mulai nampak dari masalah tempat yang informasinya selalu berubah sejak pagi hingga siang harinya. Mulai dari rencana awal di Ruang PPA Polwiltabes Semarang, pada informasi berikutnya pindah ke Polsek Bawen, kemudian pindah lagi di Polsek Ambarawa dan informasi terakhir di Hotel Citra Resmi Bandungan.

Kapolwiltabes Semarang Kombes Pol Drs Masjhudi saat dimintai keterangan wartawan usai salat Jumat enggan memberikan keterangan lebih lanjut terkait kasus tersebut. Sebaliknya, ia meminta wartawan untuk tidak membesarkan kasus pernikahan Syekh Puji karena alasan kasihan. “Jangan ditulis lagi, kasihan dia (Ulfa.red), kalian sudah terlalu banyak memberitakan, saya tidak komentar,” ungkanya singkat


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: